Make your own free website on Tripod.com
Selamat Datang di Web Site MASIGAB, Majelis Silaturahmi Warga Brebes
Home | About Brebes | Fokus | Kabar Cah Brebes | Dari Brebes | Newsletter | Opini | Wisata | Profil | Foto seputar Brebes | Kuliner Brebes
Newsletter

randu7.jpg
Parin Brebes

Menyulap Pantai Randusanga Indah Jadi Ancolnya Brebes

Suara Merdeka, Jumat, 22 Oktober 2004

MINGGU sekitar pukul 08.00, sekelompok anak balita terlihat asyik mandi di pinggiran laut. Sorot matahari pagi menambah kegairahan mereka untuk berlama-lama berendam di air. Sesekali mereka saling berlarian kejar-mengejar, sedangkan orang tuanya menunggu di gasebo (tempat berteduh) dan sebagian lagi duduk-duduk di dermaga.

Suasana indah di Pantai Randusanga Indah atau lebih dikenal Parin, tak beda dengan kondisi pantai lain di pesisir utara Pulau Jawa. Yang membedakan barangkali cara pengelolaan objek wisata itu. Parin yang terletak di Desa Randusanga Kulon, sekitar enam kilometer dari jalan raya jurusan Tegal-Cirebon, dikelola oleh Kantor Pariwisata Kabupaten Brebes. Dalam tiga tahun terakhir ini objek wisata tersebut terus dipercantik dengan berbagai fasilitas pelengkap bermain.

"Objek wisata pantai satu-satunya di Brebes ini memang kami benahi untuk tempat santai warga kota," kata Kepala Kantor Pariwisata Kabupaten Brebes Drs H Supriyono.

Kehadirannya tergolong masih baru, sejak mulai dirintis tahun 2000 oleh almarhum Bupati H Moch Tadjoedin Nooraly, tempat ini semula merupakan pantai yang telantar dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Melihat potensi keindahan alamnya, Tadjoedin kemudian membuat jalan ke arah pantai.

Jalan yang dibuka semula jalan kecil ke arah tambak, namun kemudian diperlebar mengikuti alur Kali Sigeleng. Jadilah jalan mulus beraspal hotmix yang memudahkan perjalanan menuju pantai.

Menurut Kasi Objek Wisata Kantor Pariwisata Abdul Ta' Agus, objek Parin memiliki luas 30 ha memanjang dari barat ke timur. Dari luas tersebut, baru 10 ha yang dimanfaatkan untuk kawasan objek wisata. Sisanya tengah dipersiapkan untuk kawasan perkemahan dan lokasi road race atau arena balap motor.

Dibanding dengan lokasi pantai di pesisir utara kabupaten lain, Parin memiliki daya tarik tersendiri karena merupakan kawasan pantai yang landai. Berdasarkan penelitian Balai Pengembangan dan Penelitian Teknologi (BPPT) Pusat, lokasi Parin dari pantai ke tengah laut sejauh 2,5 km memiliki kedalaman hanya lima meter. Kondisi ini dianggap cocok sebagai kawasan wisata karena tidak membahayakan pengunjung.

Mereka yang ingin mandi di laut, baik anak-anak maupun orang tua, dengan bebas dapat melakukannya. "Ombaknya juga tak begitu besar sehingga anak-anak suka bermain di laut," paparnya.

Terus Dibenahi

Dalam upaya menyulap pantai ini, kantor pariwisata bertekad menjadikan tempat wisata ini sebagai Ancolnya Brebes. Meski belum selengkap Ancol, Jakarta, secara bertahap Parin akan terus dibenahi.

Sejak dijadikan tempat wisata, berbagai fasilitas terus dilengkapi. Antara lain sarana pendukung jalan hotmix sampai ke lokasi. Kemudian puluhan gasebo di pinggiran pantai sebagai tempat berteduh, kawasan bermain anak mulai dari arena becak air, ayunan, sampai aneka macam mainan lainnya. Persis di tepi pantai, pengelola membangun sebuah dermaga dengan bentuk huruf T menjorok ke laut. Fungsi dermaga selain sebagai tempat santai dan memancing, juga menjadi tempat sandaran perahu wisata.

Mereka yang ingin menikmati keindahan tengah laut dapat menggunakan jasa perahu yang disediakan nelayan. Pada hari libur, banyak pengunjung memanfaatkan wisata ke tengah laut dengan sistem ongkos per orang ataupun borongan. Setiap orang dipungut antara Rp 2.000 dan Rp 3.000, sedangkan sistem borongan bergantung pada kesepakatan antara penyewa dan pemilik perahu.

Khusus pada hari Minggu, pengelola menggelar panggung hiburan terbuka yang menghadirkan artis lokal dan ibu kota. Bagi yang suka makanan khas sea food, di sana juga disediakan kafe yang dikelola warga setempat. Kafe Gusti misalnya, menyediakan hiburan karaoke dan sesekali menghadirkan solo organ. (Wahidin Soedja-14n)

Line

TKW Brebes Disiksa Majikan di Arab Saudi

 

Liputan6.com, Brebes: Kasus penyiksaan tenaga kerja wanita Indonesia yang bekerja di Arab Saudi kembali terungkap. Giliran Sulastri, TKW asal Desa Jatirokeh, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang menjadi korban. Selama 18 bulan menjadi pembantu rumah tangga di Saudi Arabia, dia kerap dianiaya majikannya, Ubeid Saad Rajih Alghamidi, dan istrinya, Safrah.
Isak tangis menyambut kedatangan Sulastri di rumah keluarganya di Desa Jatirokeh, Brebes, baru-baru ini. Tubuh perempuan itu penuh luka, mulai dari kepala hingga kaki. Sulastri bekerja dengan kontrak kerja selama dua tahun mulai akhir Februari 2003. Dia berangkat melalui perusahaan penyaluran TKW PT Bahana Timur Megah di Jakarta Pusat.
Tak ada yang menyangka, penderitaan Sulastri terjadi sejak pertengahan Maret 2003 hingga Agustus silam. Dia kerap disiksa dan dianiaya majikan yang tinggal Kota Abaha, Arab Saudi. Sulastri mengaku sempat lari dari rumah majikan atas bantuan polisi setempat. Dia juga dirawat selama 25 hari di rumah sakit. Namun setelah pulih, dia dijemput lagi oleh majikannya untuk bekerja lagi.
Baru satu pekan bekerja, Sulastri disuruh pulang oleh Alghamidi dengan gaji hanya sekitar Rp 10 juta. Padahal oleh perusahaan penyalurnya, Sulastri dijanjikan gaji sebesar 600 real atau sekitar Rp 1,2 juta per bulan.
Penyiksaan TKW asal
Indonesia bukan pertama kalinya terjadi. Resti asal Desa Kalepandan, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, juga dianiaya majikannya di Riyadh, Arab Saudi. Sang majikan bahkan tega menabrak Resti dengan mobil hingga kaki kanannya diamputasi [baca: Derita Resti, Mantan TKW di Riyadh].(OZI/Sugihartono dan Budi Harto)

bawang_merah.jpg

Sekilas Budidaya Bawang Merah

 

Nama Brebes.....sepertinya sudah identik dengan hal yang satu ini bawang merah........dan memang itulah salah satu yang tertera dalam symbol kabupaten Brebes. Bila kita pulang kampungpun terkadang bawang merah-lah menjadi satu alternatif untuk oleh-oleh. Sebagai warga Brebes tentu tak ada salahnya bila kita mengenal budidaya bawang merah (Allium ascalonicum) yang di sadur dari http://www.hortikultura.go.id/horti/default.asp .  Pada dasarnya, bawang merah dapat diusahakan pada lahan potensial yang mempunyai ketinggian 10 250 meter di atas permukan laut; dataran rendah seperti lahan pantai dan lahan-lahan marginal lainnya.

VARIETAS

Varietas bawang merah yang dapat digunakan untuk dibudidayakan di dataran rendah, seperti: lahan pantai dan lahan marginal lainnya adalah: Bima Brebes, Ampenan, Medan, Keling atau Kultivar lokal lainnya.

Syarat benih yang harus diperhatikan adalah:

  • Berasal dari kultivar unggul dan umurnya cukup tua sekitar 60 80 hari;
  • Ukuran umbi sedang, berdiameter 1,5 2 cm dengan bentuk simetris;
  • Umbi telah disimpan paling sedikit 3 4 bulan;
  • Bebas dari penyakit yang ditandai dengan warna merah cerah dan tidak berbercak hitam
  • Bersertifikat atau berlabel merah jambu.

TEKNOLOGI BUDIDAYA

A.    Penyiapan Lahan

Budidaya bawang merah akan tumbuh baik pada tanah dengan kisaran pH optimum 5,8 7,0. Jika pH lebih rendah atau sama dengan 5,5 maka harus dilakukan pengapuran 2 4 minggu sebelum tanam ketika tidak hujan atau awal kemarau, tetapi jika tanah bersifat alkalis (basa) dengan pH di atas 7 maka harus diberi belerang agar nilai pH-nya turun.

Pengolahan tanah dilakukan pada saat tidak hujan 2 4 minggu sebelum tanam. Tunggul   sisa tanaman lama dibongkar sampai ke akarnya, tanah dicangkul sedalam 40 cm, kemudian membuat bedengan-bedengan dengan lebar 100 200 cm dan panjang sesuai kebutuhan. Jarak antar bedeng 20 40 cm. Selanjutnya dibuat pula satu atau beberapa saluran air.

 

B.     Penanaman

Sehari sebelum tanam, bedengan dibasahi. Setelah agak kering, membuat guritan-guritan yang sejajar dengan lebar bedengan yang dalamnya 2 3 cm. Kemudian bibit yang akan ditanam dipotong ujungnya hingga 1/3 1/2 bagian, lalu  dibenamkan dalam guritan, ditekan sedikit dan ditutup tanah tipis-tipis dengan jarak tanam 20 x 20 cm.

 

C.     Pemupukan

Untuk meningkatkan produksi per satuan luas yang tinggi, diperlukan pemupukan yang cermat sesuai kondisi lahan yang ada. Biasanya lahan seluas 1 hektar lahan, dibutuhkan dosis pupuk buatan sebagai berikut: Urea 90 kg/Ha; ZA 115 kg/Ha, TSP/SP-36 125 kg/Ha, KCl 100 kg/Ha, pupuk kandang 10 ton/Ha.

Sebagai contoh waktu dan dosis pemupukan tanaman bawang merah dengan luas areal 1400 madalah:

Umur Tanaman (hr)

Pupuk kandang (kg)

Urea (kg)

ZA (kg)

TSP (kg)

KCl (kg)

  7  HST

1700

-

-

-

-

  Pupuk  Dsr (3HST)

-

5

15

40

-

  Pupuk I 

(21 HST)

-

20

40

-

20

 Pupuk II

(35 HST)

-

10

30

-

25

Jumlah

1700

35

85

40

45

Keterangan:

  • HST = hari setelah tanam;
  • Tiap rumpun diberi pupuk sekitar 1,5-2 gr/ l kali pemupukan.
  • Cara pemupukan dapat dilakukan dengan cara penugalan atau pembenaman.

D.    Pemeliharaan

Penyulaman, dilakukan apabila di lapangan dijumpai tanaman yang mati. Biasanya d dilakukan paling lambat 2 3 minggu setelah tanam. Pembumbunan dan penyiangan, dilakukan bersamaan dengan penyiangan kira-kira tanaman berumur 21 hari. Pengendalian OPT, tergantung pada serangan Hama dan Penyakit. Untuk serangan hama dapat dilakukan dengan beberapa cara:

  • Sanitasi gulma karena dapat menarik serangga betina untuk meletakkan telur

  • Pengumpulan larva kemudian me-musnahkan

  • Pengolahan lahan untuk membongkar persembunyian ulat

  • Penggunaan insektisida tidak berlebihan.

Untuk serangan penyakit dapat dilakukan dengan beberapa cara:

  • Sanitasi dan pembakaran sisa-sisa tanaman yang sakit
  • Penggunaan benih yang berasal dari tanaman yang sehat
  • Penggunaan fungisida yang efektif (tidak berlebihan) hal ini perlu diperhatikan untuk mendapatkan bawang merah yang bebas dari residu bahan kimia. 

E.     Panen

Panen bawang merah di dataran rendah dilakukan bila umbi sudah cukup umur sekitar 60 - 70 HST, yang ditandai dengan menguningnya daun bawang merah, umbi penuh berisi dengan warna merah meng-kilap. Panen dilakukan dengan cara mencabut seluruh tanaman dengan hati-hati.

F.      Pasca Panen

Pengeringan dengan cara dihamparkan merata di atas tikar atau digantung diatas para-para, biasanya memakan waktu 2 3 hari. Setelah agak kering diikat dalam bentuk ikatan-ikatan.  Sortasi dan grading dilakukan untuk memisahkan bawang yang baik dengan yang cacat sekaligus mengelompokkannya sesuai besar kecil umbi.

Penyimpanan bawang merah dapat disimpan dalam rak-rak penyimpanan atau digantung dengan kadar air 80 % - 85 %, suhu ruangan 30 33 0C dengan kelembaban udara nisbi 65 75 %. Jika suhu udara tinggi, diturunkan dengan cara membasahi lantai dengan air dan jika kelembaban cukup tinggi diturunkan dengan memberikan batu kapur pada lantai penyimpanan. Dengan teknik penyimpanan yang benar, bawang merah dapat disimpan selama 4 6 bulan.

We may make past editions of the newsletter available for download.