Make your own free website on Tripod.com
Selamat Datang di Web Site MASIGAB, Majelis Silaturahmi Warga Brebes
Home | About Brebes | Fokus | Kabar Cah Brebes | Dari Brebes | Newsletter | Opini | Wisata | Profil | Foto seputar Brebes | Kuliner Brebes
Dari Brebes

01rebana.gif
Foto koleksi PR

Mengenal Rebana Kaliwadas

Nama Brebes selain di kenal sebagai penghasil bawang merah dan telor asin juga dengan REBANA yang terdapat di Desa Kaliwadas Kec. Bumiayu Kab. Brebes Jawa Tengah. Para perajin rebana di daerah tersebut yang sudah memulai usahanya sejak tahun 1943.  Rebana laris menjelang hari kemerdekaan Indonesia dan Malaysia, permintaan dari negara jiran meningkat drastis. Tahun lalu, dua bulan sebelum Agustus, negara tersebut memesan 1.000-2.000 "kompang". Penduduk di Malaysia menyebutnya kompang, dari segi ukuran serta bentuknya memang berbeda dengan rebana yang digunakan kasidah kita. Bahkan menjelang Pemilu seperti sekarang ini permintaan akan rebana juga meningkat.

Menurut Sobirin Yunus seorang pengrajin rebana, alat musik tabuh rebana versi Desa Kaliwadas terdiri dari empat jenis, yakni rebana kasidah, hadrah, rebana untuk mengiring pengantin, dan rebana Jawa. Rebana hadrah dan Jawa biasanya ditabuh untuk kaum laki-laki, sedangkan rebana kasidah hanya dimainkan khusus oleh wanita. Hadrah dan rebana Jawa juga tidak mengenal set dan disesuaikan dengan tingkatan nada dasar. Kedua alat tersebut bisa dimainkan sendiri-sendiri. Sementara itu, satu set rebana kasidah terdiri dari enam rebana, setiap rebana memiliki nada dasar sendiri. Biasanya ditentukan oleh besar kecilnya diameter kluwungan (lingkaran), nada dasar masing-masing alat musik sudah distandarkan oleh Lembaga Seni Qosidah Indonesia (Lasqi).

Pertama, nada dasar bas 1 dengan diameter kluwungan 35 cm, nada bas 2 diameter 32 cm, selo 28 cm, dan tiga rebana dengan nada sopran ukuran 18 cm. Rebana kasidah ini dilengkapi pula dengan alat musik kecrik sebanyak dua buah. Khusus untuk kompang, diameternya disesuaikan dengan pemesanan bisa 20 cm atau 25 cm, 30 cm bahkan ada yang 35 cm. Kompang juga tidak mengenal set, permintaannya per satuan.

Bahan pembuatan alat musik rebana kasidah antara lain kayu. Kayu paling bagus untuk membuat rebana adalah kayu sawo karena bunyinya lebih nyaring dibanding dengan menggunakan kayu jenis tanaman lain. Namun, karena mahal dan langka, mereka beralih ke kayu pohon mangga, petai, atau durian. Bahan baku lainnya adalah kulit kambing, paling bagus menggunakan kulit kambing Jawa karena suara yang dihasilkan juga lebih nyaring serta harganya lebih terjangkau. Kulit domba juga bisa dipakai, tetapi di samping harganya mahal, kulitnya juga terlalu tipis sehingga mudah sekali rusak atau mengurangi kualitas suara. Bahan baku lain untuk proses finishing antara lain paku, cat, pelitur, dempul, dsb. Proses pembuatannya juga cukup rumit serta membutuhkan waktu cukup lama. Pembuatan satu set dengan satu buah rebana memakan waktu yang sama, minimal dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan. Yunus menjelaskan langkah pertama membuat rebana adalah membuat kluwungan, diampelas, dipanaskan di bawah terik matahari, kemudian dipanaskan lagi dengan kompor, diampelas lagi untuk membersihkan serat kayu yang sudah menjadi arang, lalu dicat. Untuk menutup pori-pori kayu, kayu harus didempul terlebih dahulu diampelas lagi baru dipelitur.

Kemudian, dipasang kulit kambing. Sebelumnya, kulit kambing pun harus melalui proses pembersihan dan pengeringan sampai diperoleh kulit yang diharapkan. Pemrosesan kulit ini juga memakan waktu cukup lama serta tenaga yang kuat.

Pemasaran rebana atau hadrah sekarang ini makin luas. Ekspor tidak hanya ke negara tujuan Malaysia, tetapi juga Singapura. Ekspor tidak ditangani langsung olah pengrajin di Kaliwadas tetapi diserahkan pada pengekspor di Jakarta karena mereka yang tahu persis pemasaran rebana di luar negeri.

Harga rebana di tingkat perajin dijual hanya Rp 350.000,00 per set, hadrah maupun rebana Jawa Rp 80 ribu/satuan. Namun, sampai Sumatera atau Purwokerto bisa mencapai Rp 1,2 juta - Rp 1,5 juta per set. Harga di pasar luar negeri sebesar Rp 500.000,00/satuan rebana.

Tiga Generasi

Kerajinan hadrah atau rebana konon mulai berkembang di Desa Kaliwadas sekira tahun 1943. Pertama kali dikenalkan pada masyarakat setempat oleh H. Abdul Azis. Keterampilan tersebut diturunkan lagi kepada anaknya H. Mas'ud dan sekarang dikembangkan oleh generasi ketiga, antara lain Norrachman dan Sobirin Yunus.

Kerajinan rebana dulu, kata Yunus, sangat sulit berkembang karena masyarakat saat itu masih mendewakan perkembangan teknologi yang diadopsi dari dunia Barat. Namun, sejak 1998-1999, angin perkembangan mulai semilir, apalagi pada saat Presiden RI dipegang oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. "Beliau sangat concern dengan produksi dalam negeri. Kerajinan rebana yang dikelola secara home industry mulai berkembang pesat. Bahkan, di Banyumas setiap SD diwajibkan memiliki alat tabuh ini dan pihak sekolah membelinya dari kami," ungkap Yunus dengan bangga.

Saat ini, sedikitnya terdapat 70-90 perajin di Kaliwadas. Setiap perajin mampu mempekerjakan lima sampai tujuh tenaga kerja. Umumnya setiap perajin itu melibatkan pula keluarganya, anak, istri, dan saudara dekatnya.

Mengenai gaji, kata Norrachman, di atas UMR Jawa Tengah. "Kontrak kerja dipakai sistem borongan, bukan harian. Jika mereka mampu menyelesaikan dalam jumlah banyak upahnya pun semakin besar. Tapi kalau dirata-rata mereka bisa memperolah gaji Rp 8.000,00 sampai Rp 10.000,00 per hari. Jumlah itu sudah di luar ongkos, makan, dan sebagainya, pokoknya sudah terima bersihlah," katanya. Selain sebagai perajin, mereka kadang ikut memasarkannya sendiri. Biasanya melalui pemesanan, tetapi umumnya diserahkan kepada pengepul.

Situasi Kaliwadas  di sepanjang jalan menuju kecamatan Salem, sebagai pusat perajin rebana sudah dapat dirasakan jika berkunjung ke sana. Beberapa rumah tinggal di bagian depannya sudah disulap menjadi toko. Berderet-deret toko menjual alat tabuh tersebut, tetapi beberapa toko sudah melengkapi tokonya dengan alat musik drum band, alat musik pukul tamborin bahkan band set juga ada. Beragam alat musik itu dibuat sendiri oleh para perajin di Kaliwadas. Ternyata, angin segar itu dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk mengembangkan usahanya, tidak sebatas pada rebana atau hadrah.(Disarikan dari PR Senin, 01 Desember 2003-evi/pr)

 

 

KARAKTERISTIK PANTAI KABUPATEN BREBES DAN ZONASI PERUNTUKANNYA


Syaefudin: Prosiding Seminar Teknologi untuk Negeri 2003, Vol. IV, hal. 144 - 148 /HUMAS-BPPT/ANY
 
Pantai utara Brebes, Jawa Tengah merupakan pantai yang diapit oleh dua Sistem Delta yaitu delta DAS Cisanggarung yang terletak di bagian Barat dan DAS Pemali yang terletak di sebelah timur. Kedua sistem Delta tersebut secara langsung dan sangat dominan mengontrol karakteristik pantai Brebes dimana pada bagian delta terendapkan material kasar (pasir) sedangkan ke arah tengah berupa endapan lumpur serta ke arah sebelah timur kali pemali berupa endapan pasir. Kondisi pantai tersebut ditunjukkan pula oleh keberadaan mangrove dimana pada bagian tengah lebih dominan tumbuh. Pengukuran arah pergerakan sedimen pantai secara umum menunjukkan ke arah tengah sedangkan pada Das Pemali sebaguan ada yang ke arah timur membentuk pantai Pasir. Dari data kedalaman laut menunjukkan topografi dasar laut yang relatif seirama dengan bentuk pantai, dengan kedalaman yang terbesar di bagian timur dibandingkan pada bagian barat jika diukur dari pantai dengan jarak yang sama. Berdasarkan data karakteristik pantai, maka dapat diidentifikasi zonasi pantai berupa kawasan konservasi mangrove, kawasan wisata, pertambakan dan rencana pelabuhan.
 
Pada tahun 2001 dan 2002, telah dilakukan kerjasama antara P3TISDA dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes (lampiran gambar 1), dalam kegiatan Inventarisasi Potensi Sumberdaya Pesisir sebagai upaya untuk menggali potensi sumberdaya alam pesisir untuk peningkatan Pendapatan Asli daerah (PAD). Salah satu keluaran dari kegiatan tersebut berupa karakteristik pantai dan zonasi peruntukannya sebagai dasar Rencana Penyusunan Tata Ruang Pantai dan Laut (Pesisir) Kabupaten Brebes Jawa Tengah.
Pesisir Brebes banyak dilalui oleh sungai besar dan kecil yang merupakan bagian dari DAS Cisanggarung di bagian barat dan DAS Pemali di bagian timur. Sungai-sungai tersebut bermuara di perairan Pesisir Brebes membentuk delta pada bagian barat dan timur. Banyaknya material sungai yang diangkut dan diendapkan di pantai, menyebabkan kawasan ini merupakan pantai maju (prograded coastal), terutama pada daerah delta sungai Cisanggarung dan sungai Pemali. Walaupun pengaruh sungai cukup dominan, namun pengaruh laut juga cukup besar, hal ini dapat dilihat pada kedua daerah delta tersebut di atas tidak membentuk delta kaki burung (bird foot delta), sebagai ciri delta yang di dominasi oleh sistem sungai (fluvial). Kondisi ini memberikan gambaran bahwa proses-proses alam yang terjadi di Perairan Pantai Brebes cukup komplek yaitu interaksi antara proses asal darat (sedimentasi) dan proses asal laut (gelombang, pasang surut dan arus ).


Dari beberapa pembahasan di atas maka dapat diambil beberapa kesimpulan meliputi :
Karakteristik pantai Brebes terdiri dari pantai berlumpur, pantai berpasir dan pantai mangrove. Pantai Brebes merupakan tempat bermuaranya sungai besar dan kecil, yang menyebabkan daerah pantai Brebes makin bertambah ke arah laut (prograding).
Pantai Brebes dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis pantai, yaitu: pantai delta (Delta Losari dan Pemali), pantai teluk (Teluk Bangsri) dan pantai lurus (Randusanga). Berdasarkan tingkat perkembangan atau penambahan daerah pantainya, pantai delta mengalami perubahan paling dinamis, di-ikuti oleh pantai teluk kemudian oleh pantai lurus.
Pembagian zonasi pantai terdiri dari bagian barat mulai dari Losari (Prapag Kidul dan Prapag Lor), Teluk Bangsi sampai dengan sekitar muara sungai Nippon (Desa Sawojajar dan Kaliwlingi) baik untuk pengembangan konservasi tanaman bakau (mangrove) yang dapat berfungsi untuk pemulihan daya dukung lingkungan, sedangkan wilayah pantai bagian timur mulai sebelah timur sungai kamal sampai dengan Pantai Randusanga Kulon sangat baik untuk dikembangkan menjadi Kawasan Pelabuhan Antarpulau maupun Kawasan Pariwisata Pantai. Perairan pantai Brebes bagian barat relatif dangkal, untuk mencapai kedalaman laut 5 meter berjarak lebih kurang 2.25 km dari garis pantai, sedang di perairan bagian timur, kedalaman laut 5 meter, berjarak lebih kurang 1,4 km. Makin kearah lepas pantai kedalaman laut berubah secara gradual ( morfologi dasar lautnya landai ) dengan pola garis kontur tidak lagi mengikuti bentuk garis pantainya.