Make your own free website on Tripod.com
Selamat Datang di Web Site MASIGAB, Majelis Silaturahmi Warga Brebes
Home | About Brebes | Fokus | Kabar Cah Brebes | Dari Brebes | Newsletter | Opini | Wisata | Profil | Foto seputar Brebes | Kuliner Brebes
Fokus

Cermin: "KENDALI SADA"


ADA sebuah kisah yang pantas dibedah dalam kaitan dengan pemahaman konvensi budaya Jawa yang seringkali terbungkus dalam sebuah laku budaya indah.

Berawal dari seorang siswa yang datang ke seorang tua, yang dimaksudkan adalah tua-sepuh dalam pemahaman budaya Jawa. Kemudian orang tua itu memberikan saran, setelah si siswa membeberkan kesulitan hidupnya. Adapun saran dari orang tua itu adalah bahwa siswa tadi harus menjalani laku: ke wot galeh, jala sutra dan 'kendali sada'.

Dan benarlah, si siswa tadi melakukan perjalanan ke wot galeh di daerah Yogyakarta, malahan berziarah ke makam orang ternama di masa dulu. Kemudian setelah cukup ia melanjutkan perjalanan ke Jala Sutra, dan kemudian ke 'kendali sada'. Demikian perjalanan itu dilakukannya tidak kurang dari tiga kali. Dan setelah melakukan beberapa kali perjalanan itu si siswa tadi tidak merasakan adanya perubahan hidupnya. Setelah itu siswa itu kemudian bertandang ke Yogyakarta ke orang yang dianggap mengerti soal ini. Dan ketika ditanya soal laku itu, si siswa malah diketawakan. Sebab si siswa tidak memahami petunjuk yang dibungkus dalam sebuah budaya laku Jawa. Si siswa menangkap segala petunjuk orangtua yang dianggap tahu 'sakdurunge winarah' secara fisik. Ia melakoni perjalanan. Padahal yang dimaksudkan orangtua itu adalah memahami arti dari kata-kata yang dicuatkan dalam petunjuk itu.

Kata-kata yang muncul dalam petuah orang tua tadi adalah wot galeh, jala sutra dan 'kendali sada'.Wot galeh, yang dimaksudkan tentunya adalah hati. Dan wacana ini adalah wacana dan pedoman di dalam hidup bermasyarakat dalam 'bebrayan agung'. Wot galeh, adalah melalui pertimbangan hati, bukan pikiran. Artinya hidup dengan rasa. Sumber kehidupan orang Jawa adalah rasa. Kalau 'rasane urip' atau rasa perasaannya hidup' dunia ini sangat indah. Keindahannya ibarat mendatangkan musik surgawi yang semua serba 'laras, resep'. 'Urip tanpa rasa kadya reca', sebaliknya hidup tanpa rasa seperti arca. Oleh karena itulah siswa tadi dituntut untuk menghidupkan rasa-hidup.
Kemudian Jala Sutra, apa maknanya. Memang ada nama daerah Jala Sutra di Jawa Tengah. Tetapi tentu bukan itu yang dimaksudkan. Arti Jala Sutra adalah jala yang sangat halus, artinya juga pertimbangan hati. Semua tindak dan langkah harus disertai dengan pertimbangan hati, rasa perasaan lagi. Atau bisa juga mengikuti suara hati. Dasar tindakan dan langkah kehidupan adalan suara hati, yang dimaksudkan sebagai 'Jati swasa' atau sejatining swara', suara sebenarnya. Segala yang masuk dan keluar dari langkah dan tindak manusia harus dijaring dalam pemahaman yang benar.

Kemudian 'kendali sada', apa pula maksudnya. Kendali artinya mengendalikan Sada, adalah sebuah kekuatan tersembunyi. Sada kalau hanya satu, mudah sekali patah. Tetapi kalau sudah digabungkan menjadi satu dalam wujud yang banyak mempunyai kekuatan untuk menyapu, membersihkan. Tentu yang dibersihkan adalah sesuatu yang kotor. Dengan demikian 'kendali sada' adalah pengendalian hawa nafsu, ucapan dan tindakan untuk senantiasa mencari kebersihan hati, kebenaran agar hidup ini semakin indah. Dan semakin mendatangkan suasana surgawi di dunia ini. Kalau laku Jawa tadi dilaksanakan dengan tepat, maka boleh diharapkan hidup siswa tadi bakal menjadi baik dan semakin menebarkan keharuman di dunia yang penuh kepalsuan ini. (Sugeng WA)

brebes.jpg

Perlu Normalisasi Sarana Irigasi Tempo Doeloe
 

      Seringkali kita dengar, baca para petani di Brebes khususnya  bagian utara mengeluh akan kekurangan air untuk usaha tani-nya. Sebenarnya bila kita tengok Brebes, barangkali punya kelebihan lain dalam sarana irigasi  di bandingkan dengan daerah lain. Dua diantara delapan belas bendungan besar di Jawa Tengah ada di Brebes yaitu Penjalin dan Malahayu.  Selain itu  ada beberapa waduk lapangan seperti di Larangan, Songgom, Brebes dll.  yang di bangun saat pemerintahan Belanda untuk pengairan perkebunan tebu. Suatu fakta tempo doeloe Brebes memiliki tigak PG yaitu Jatibarang, Banjaratma dan Tersana Baru. Bercermin ke masa lalu, barangkali petani Brebes tak akan kekurangan air atau banjir saat musim hujan bila waduk besar (Penjalin dan Malahayu) dan waduk-waduk kecil dapat berfungsi dengan baik. Memfungsikan kembali sarana irigasi yang telah ada, perbaikan DAS dan rehabilitasi lahan di daerah selatan mungkin suatu hal yang perlu mendapat prioritas pemerintah daerah. Suatu cermin konon kabarnya jaman kerajaan tempo doeloe membangun bendungan sebagai sarana irigasi pertanian dan menahan banjir banyak di lakukan. Misal suatu Prasasti Wulig/Bakalan (935 M.), yang mengandung keterangan tentang pembuatan bendungan. Bendungan itu berfungsi sebagai irigasi dan tempat pembibitan ikan  Konservasi alam dalam bentuk lainnya tergambar dalam prasasti Talang Tuo (606 M.) dari masa Kerajaan Sriwijaya. Manfaat yang hendak dituju melalui pembangunan bendungan dan konservasi alam lain tempo doeloe adalah untuk kesejahteraan rakyat dan menjamin kontinuitas penghasilan kerajaan yang diperoleh dari sektor pajak.

Bendungan Penjalin

1.       UMUM.

Lokasi :

  • Desa/Kecamatan : Paguyangan/Bumiayu
  • Kabupaten : Brebes
  • Propinsi : Jawa Tengah
  • Biaya : tad
  • Pengelola : Dinas PU Pengairan Jateng
  • Konsultan desain : Pemerintah Hindia Belanda
  • Kontrakstor : Pemerintah Hindia Belanda
  • Tahun pelaksanaan kontruksi : 1930 - 1934
  • Manfaat : Irigasi 29.000 ha

2. HIDROLOGI

Sungai :

  • Anak sungai : Penjalin
  • Induk sungai : Pemali
  • Luas daerah aliran sungai : 4,40 km2
  • Curah hujan desain : tad
  • Curahan hujan tahunan : 2754 mm
  • Debit desain pengelak : tad

3. WADUK

Elevasi dan luas muka air (MA) waduk :

  • MA banjir : EI + 340,45m , 132ha
  • MA normal : EI + 339,50, 120 ha
  • MA minimum : EI + 327m, 19 ha

Volume waduk pada :

  • MA banjir : 10,6 juta m3
  • MA normal : 9,5 juta m3
  • Vol. Mati : 0,508 juta m3
  • Vol. Efektif : 8.992 juta m3

4.       BENDUNGAN

  • Tipe : urugan tanah homogin
  • Tinggi di atas dasar sungai : 18 m
  • Tinggi di atas galian : 22,64 m
  • Panjang puncak : 842 m
  • Elevasi puncak : EI + 342,25 m
  • Volume tubuh bendungan : 396.000 m3

5.      PELIMPAH

  • Tipe : "ogee" tanpa pintu
  • Banjir desain : tad
  • Kapasitas pelimpah : 90,51 m3/d (dihitung)
  • Elevasi mercu : EI + 339,50 m
  • Kala ulang T : tidak ada
  • Panjang mercu bersih : 16 m

6.      BANGUNAN PENGELUARAN

  • Tipe : konduit
  • Bentuk : lingkaran
  • Garis tengah, jumlah : 2 m, 1 bh
  • Panjang : 226 m
  • Tipe alat operasi : katup
  • Kapasitas : tad
  • Energi cadangan operasi : tad

7.      INSTRUMENTASI

  • Pisometer : 13 bh, pipa tegak
  • Termistor : 1deret
  • Alat ukur debit : 2 bh, V-notch

Bendungan Malahayu

1.       UMUM.

Lokasi :

  • Desa/Kecamatan : Malahayu/Banjarharjo
  • Kabupaten : Brebes
  • Propinsi : Jawa Tengah
  • Manfaat : Irigasi 18.456 ha
  • Tahun pelaksanaan kontruksi : 1935 - 1940
  • Biaya : tad
  • Pengelola : Dinas PU Pengairan Jabar
  • Konsultan desain : Pemerintah Hindia Belanda
  •  Kontrakstor : Pemerintah Hindia Belanda

2.       HIDROLOGI

Sungai :

  • Anak sungai : Tidak ada
  • Induk sungai : K.Kabuyutan
  • Curah hujan desain : tad
  • Luas daerah aliran sungai : 63 km2
  • Debit desain pengelak : tad
  • Curahan hujan tahunan : 2600 mm

3.       WADUK

Elevasi dan luas muka air (MA) waduk :

  • MA banjir : EI + 57,55m + 80,09 ha
  • MA normal : EI + 55,75m + 70,20 ha
  • MA minimum : EI + 46,50, 12,60 ha

Volume waduk pada :

  • MA banjir : 52,48 juta m3
  • MA normal : 39,88 juta m3
  • Vol. Mati : 1,86 juta m3

Vol. Efektif : 38,02 juta m3

4.       BENDUNGAN

  • Tipe : urugan tanah tidak homogin
  • Tinggi di atas dasar sungai : 29,75 m
  • Elevasi puncak : EI + 59,25 m
  • Tinggi di atas galian : 31,35m
  • Panjang puncak : 176 m
  • Volume tubuh bendungan : 210.000 m3

5.       PELIMPAH

  • Tipe : "ogee" tanpa pintu
  • Banjir desain : 215 m3/d
  • Kapasitas pelimpah : 193,92 m3/d (dihitung)
  • Panjang mercu bersih : 40,15 m
  • Elevasi mercu : EI + 55,75 m
  • Kala ulang T : 125 thn

6.       BANGUNAN PENGELUARAN

  • Tipe : konduit
  • Bentuk : lingkaran
  • Garis tengah, jumlah : 3 m, 1 bh
  • Energi cadangan operasi : tidak ada
  • Panjang : 133,7 m
  • Tipe alat operasi : katup
  • Kapasitas : tad

7.       INSTRUMENTASI

  • Pisometer : 11 bh, standpipe

(Sumber: http://www.pu.go.id/publik/pengairan/

html/ind/infbair/bendungan/JATENG/penjalin.html)