Make your own free website on Tripod.com
Selamat Datang di Web Site MASIGAB, Majelis Silaturahmi Warga Brebes
Home | About Brebes | Fokus | Kabar Cah Brebes | Dari Brebes | Newsletter | Opini | Wisata | Profil | Foto seputar Brebes | Kuliner Brebes
Kuliner Brebes

Kuliner  Brebes...Kolom ini  secara sederhana dapat di mengerti sebagai cerita wisata masakan atau jajan seputar Brebes. Nuansa tradisional, cita rasa, eksotisme, estetika dan atraksi penyajian, serta higiena, merupakan titik-titik kekuatan inti dari produk yang ditawarkan.

 *************************************************************

1. ''Kafe Saka Limalas'' Bumiayu

KAFE, tempat yang sudah tidak asing bagi warga kota. Mau nyantai, melakukan lobi, atau pembicaraan bisnis hingga persoalan cinta, kafe sering menjadi jujugan. Bagaimana bagi warga yag hidup di kota kecil atau pedesaan? Warung kopi sudah lama dikenal sebagai tempat ngobrol dan nongkrong, baik sekadar berbicara dengan tetangga maupun kawan.

Bagi warga Kota Bumiayu, wilayah selatan Brebes, ada tempat khusus yang bisa menyalurkan kebutuhan seperti itu. Warung makan di tepi sawah, dekat sungai di Dukuh Rancakalong, Desa Dukuhturi, Bumiayu. Melihat fisik bangunan yang sangat sederhana, bahkan masih berlantai tanah, tidak berbeda jauh dengan warung kopi di kampung-kampung. Namun, coba tengok ke bagian belakang. Ternyata ada ruang terbuka terbuat dari papan, di bawahnya ada kolam ikan. Bagi tamu yang ingin nyantai bisa memilih duduk lesehan di belakang.''Para pegawai, pelajar yang ulang tahun, atau rapat-rapat sering ke sini. Tempat di belakang ini menjadi pilihan,'' ucap Maspupah (30), pemilik dan sekaligus pengelola warung. Warga asal Desa Kalijurang, Kecamatan Tonjong, sekitar 5 km dari warung itu, baru setahun ini meneruskan usaha yang dirintis Jemah, sang ibu. Menu-menu yang disediakan juga warisan dari orang tuanya. ''Saya tidak tahu siapa yang memberi nama, sayur sawi ini dinamakan criwis, dan gorengan dari ampas kelapa dan bungkil ini disebut dage bal,'' cetusnya. Untuk melanjutkan usaha membuka warung, dia dibantu dua pegawai.

Gunung Slamet

Sejauh mata memandang ke arah timur, dari belakang warung dapat menikmati pemandangan Gunung Slamet dengan kepulan asapnya. Juga hamparan hijau tanaman padi dari kampung di seberang sungai Kali Erang yang berair jernih. Jika melongok ke selatan, dapat menyaksikan ''Saka Limalas'', jembatan layang rel kereta api, jalur selatan yang melewati Kota Bumiayu. Memandang jembatan dengan tiang berjumlah lima belas yang tinggi-tinggi, yang dilintasi kereta api, mirip ular merayap pada bentangan di kaki langit. Gemuruh kereta sering terdengar. Rata-rata dalam jangka setengah jam terlihat kereta meluncur, baik dari arah timur maupun barat, yang menghubungkan Jakarta-Surabaya lewat jalur selatan.

Sambil ngobrol dan menikmati hidangan khas, dage bal, gorengan tahu, dan tempe, teh poci, maupun nasi dengan lauk petai bakar, sambal, dan criwis, sayur oseng-oseng dengan bahan baku sawi. Jika asyik menikmati hidangan, pengunjung seolah tak mau terusik, termasuk oleh gemuruh suara kereta yang silih berganti. Biarkan kereta lewat, moci (minum teh poci) jalan terus, begitulah kira-kita celetuk dalam hati. ''Saya pernah ke sini tahun lalu, sebelum bagian belakang ada. Yang ngangeni ya dage bal ini,'' kata Ali, warga Kota Brebes yang sengaja datang ke ''Kafe Saka limalas''.

Penyebutan kafe itu untuk memberikan apresiasi peran warung itu yang selama ini sering menjadi ajang pertemuan, ulang tahun, lobi maupun urusan dagang.''Ibaratnya, menjadi terminal bagi orang yang yang mempunyai berbagai kepentingan. Bahkan para makelar pun sering nongkrong,'' cetus Drs Djajoesman, Kepala Kantor Informasi dan Kehumasan Kabupaten Brebes. Apa yang dikatakan itu tidak meleset. Sejumlah makelar material bangunan memang menjadikan warung itu sebagai tempat menjaring pembeli. Dekat warung ada tumpukan batu dan pasir di tepi jalan yang diambil dari sungai terdekat.''Kafe saka limalas'' hanya buka siang hari, pukul 09.00 - 17.00. Sebab, di warung itu tidak ada aliran listrik. Penerangannya hanya menggunakan lampu minyak (dari SM Jumat, 12 Desember 2003).

 

Enter content here

Enter content here

Enter supporting content here